MODEL ENTREPRENEURSHIP RASUL PAULUS BAGI HAMBA-HAMBA TUHAN GEREJA SIDANG JEMAAT PENTAKOSTA DI INDONESIA WILAYAH SURABAYA DAN MOJOKERTO

henoch cahyono

Abstract


Sebagai hamba Tuhan dituntut dedikasi yang tinggi tanpa memperhitungkan untung rugi dalam melayani Tuhan. Dalam melakukan penggembalaan secara finansial tidak bisa disamakan dengan orang yang bekerja secara sekuler atau berwiraswasta. Terkadang harus diperhadapkan dengan kekurangan secara finansial dalam memenuhi kebutuhan keluarga maupun gereja. Khususnya dalam pemenuhan kebutuhan gerejawi yakni persekutuan, penginjilan, pengajaran maupun pelayanan kasih.Dalam penelitian ini, penulis ingin memaparkan secara deskripstif bahwa panggilan sebagai Hamba Tuhan tidak menjadi penghalang untuk berkarya dalam berentrepreneurship. Keberadaan jemaat dan keluarga dapat menjadi acuan dalam berentrepreneurship. Terlebih lagi Paulus sebagai penginjil, guru dan juga gembala tetap melakuan entrepreneurship yakni membuat Tenda. Dalam pengertiannya entrepreneurship atau wirausaha adalah orang yang melakukan suatu usaha atau menciptakan hal-hal yang baru dan mempunyai nilai yang bermanfaat bagi orang lain. Berentrepreneurship memiliki konsep dasar yakni adanya kreatifitas dan inovasi dalam mengembangkan usaha dengan memiliki skill ataupun keahlian serta mental seorang pengusaha. Demikian juga dalam entrepreneurship model Paulus. Bagi Paulus berentrepreneurship dapat digunakan sebagai penyokong misi, tidak menjadi beban, bahkan dapat menjadi teladan dan sebagai sarana pendekatan. Dalam penelitian ini penulis mencoba memberikan Model Entrepreneurship Rasul Paulus bagi Hamba Hamba Tuhan GSJPDI wilayah Surabaya dan Mojokerto. Diharapkan bisa menjadi solusi maupun pertimbangan untuk mengatasi masalah masalah financial keluarga maupun kebutuhan gereja. Peneliti menggunakan metode kualitatif model Spradley dengan memaparkan analisa domain, taksomoni, komponensial dan tema kultura. Peneliti melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi terhadap tujuh orang informan sebagai hamba Tuhan atau gembala jemaat yang melakukan entrepreneurship berhasil dalam pelayanan dan entrepreneurship. Menghasilkan suatu kesimpulan bahwa berentrepreneurship tidak menjadi penghalang dalam memenuhi panggilan sebagai gembala. Bahkan dengan berentreprenurship dapat mendukung misi GSJPDI maupun persekutuan-persekutuan Kristen lainnya. Entrepreneurship tidak membebani jemaat dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga gembala maupun kebutuhan gerejawi. Bahkan dengan demikian dapat menjadi teladan dan juga lebih mudah dalam mendekati orang lain untuk misi ataupun menunjukkan terang Kristus.

Full Text:

PDF PDF

References


Alex Lanur OFM Cletus Groenen OFM, Bekerja Sebagai Karunia: Beberapa Pemikiran Mengenai Pekerjaan Manusia (Yogyakarta: Kanisius, 1985), 9.

BPN GSJPDI, Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga Gereja Sidang Jemaat Pentakosta di Imdonesia (Jakarta: BPN GSJPDI, 2008), 17.

C. Groenen, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1984), 309

Charles A Briggs Francis Brown, SR Driver, Brown-Driver-Briggs; Hebrew And English Lexicon (Oxford.: Clarendon Press, 1906), 713

Christopher Barth, Theologi Perjanjian Lama 3, 1 ed. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), 96.

David Hunger. J. and Wheelen. Thomas L., Manajemen Strategis (Yogyakarta: ANDI, 2003).

Donald A. Hagner, World Biblical Comentary, Vol.1 (Texas: Word Books Publishers, 2005), 69.

Donald Guthrie, Pengantar Perjanjian Baru (Surabaya: Momentum, 2009), 27-28

Erman S. Saragih, “Fungsi Gereja Sebagai Entrepreneurship Sosial Dalam Masyarakat Majemuk,” Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen), Vol.3 (2019), 12–23.

Hannah Orwa Bula, Evolution and Theories of Entrepreneurship: A Critical Review on the Kenyan Perspective, (International Journal of Business and Commerce, Lahore, Vol.1, no.11, 2012).

Horst Ballz, The exegetical Dictionary of New Testament, ed. oleh Gerhard Sxhneider, 3 ed. (Eerdmans Pub Co, 1994), 5045.

Jerry & Mary White, Bekerja: Arti, Tujuan, Masalah-masalahnya, ed. oleh Stephen Suleeman (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 16.

Kenman L. Wong dan Scott B. Rae, Business For The Comman Good, ed. oleh Paul S. Hidayat, Integrasi (Jakarta: Waskita Publishings, 2011), 53

Kurnia Dewi, Manajemen Kewirausahaan (Yogyakarta: Deepublish, 2020)

Merryl F. Unger, Unger’s Bible Handbook (Chicago: Moody Press, 1966), 38.

Muhammad Idris, Entrepreneur Adalah Pengusaha, Beda atau Sama? Kompas.Com

R. Laird Harris, Theological Wordbook of the Old Testament (Chicago: Moody Press, 1981), 278.

Ralph D Winter, Secular Options Form Missionary Work, Perspectives on The World Christian Movement a Reader, ed. oleh Steven C. Hawthorne, 4 ed. (California: William Carey Library, 2009), 772

Robert D. Hisrich, Entrepreneurship Kewirausahaan (Jakarta: Salemba Barat, 2008), 6.

Robert J. Banks., God the Worker; Journeys into the Mind, Heart and Imagination of God (Valley Forge: Judson, 1994).

Samuel Gregg dan Gordon R. Preece, Christianity and Entrepreneurship, Protestant dan Catholic Thoughts (Sydney: The Center For Independent Studies, 1999), 13-45.

Stevri I. Lumintang dan Danik A. Lumintang, Theologia Penelitian Dan Penelitian Theologis, ed. oleh Shendy dan Sheren Lumintang, 2 ed (Jakarta: Geneva Insani Indonesia, 2016), 97.

W J S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1987)

Wijatno, Pengantar Entrepreneurship (Jakarta: Grasindo, 2009), 16

William Hendriksen, New Testament Commentary: Thessalonians, Timothy, and Titus (Pennsylvania: Banner of Truth Trust, 1983).67




DOI: https://doi.org/10.55772/filadelfia.v7i1.265

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Alamat: Jl. Sumberan No.3, Ledok, Sajen, Kec. Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur 61374

 

Creative Commons License 
Creative Commons License Karya ini dilisensikan di bawah lisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.